<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

expect the unexpected!

hidup selalu penuh kejutan, ga ada yang bisa ngeramal dengan tepat.. aku jadi teringat komik Trio Wiluka (Willem, Lucas dan Karel) ketika menghadapi musuh yang punya bola kristal untuk melihat masa depan. setiap mereka bikin rencana selalu gagal karena si musuh ini bisa melihat apa yang mereka rencanakan. akhirnya mereka melakukan apa yang mereka sebut "mengikuti arah hidung".. mereka sukses menghancurkan musuhnya itu lho!

jadi pengen juga nyoba "mengikuti arah hidung".. akan dimanakah saya berada?

kita liat aja, apa hasil dari expect the unexpected! ini

temens
bowo

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, May 26, 2005
Ladder 49

Malam ini saya kebetulan lagi menyetel film Ladder 49, VCD original yang baru saya beli pas jalan-jalan di BC, Balikpapan. Satu lagi film tentang satuan pemadam kebakaran dari Hollywood, gambar sampul depan VCD-nya cukup menarik, bakal menegangkan dan terkesan heroik. Ternyata isinya tidak seindah sampul depannya, ceritanya biasa saja, jalinan konflik kurang, terkesan hampir datar, kejadian-kejadian yang mustinya sangat menegangkan nyatanya menjadi ajang kekurangkreatifan sutradaranya, hampir monoton (untung ga sampe jatuh tidur).

Yang lebih mengherankan, kok bisa-bisanya si Jacinda Barret (ceritanya nih jadi istrinya si Hero alias Joaquin Phoenix) masih seger dan luangsing pol meski sudah punya 2 anak yang gede-gede, jelaslah bahwa ini akibat ketololan make-up designer membuat si Jacinda dan Joaquin Phoenix menjadi orang tua yang "sama" meski sudah 10 tahun menikah!! Belum lagi dialog yang terjadi antara anak dan ayah yang terlihat sangat kagok, benar-benar mengesankan bahwa pembuat naskahnya belum pernah berkeluarga.

Menurut saya, sangat disayangkan film dengan tema yang cukup bagus (tragedi WTC memberikan eksposur yg cukup lumayan kepada satuan pemadam kebakaran NYC) karena sudah didukung artis kaliber macam John Travolta (Face/Off, Broken Arrow,Saturday Night Fever) dan Joaquin Phoenix (bermain apik di Gladiator) serta artis lama macam Robert Patrick (Terminator 2), tetap saja tidak mendongkrak film ini menjadi film yang menegangkan untuk ditonton.

Film yang masih mengesan pada saya mengenai pemadam kebakaran adalah Backdraft yg meskipun juga didukung oleh aktor tangguh macam Robert De Niro, Kurt Russel dan William Baldwin, jalinan ceritanya terasa kokoh, karakter pemainnya terasa begitu manusiawi, ketegangan tidak mesti menjadi bumbu yang sifatnya konstan (masih ingat film Perfect Storm yang ketegangannya konstan dari awal sampai akhir dan menjadi film paling membosankan didunia!).

Pinter-pinter aja pilih film, ngelihat aktor/aktris sebelum nonton itu penting, tapi pada akhirnya jalinan cerita juga yang menentukan!


ConocoPhillips Control Room
Jakarta, 26 May 2005

Posted at 04:17 am by weby
Comment (1)  

Monday, October 25, 2004
Kotok Besar

diving ato menyelam itu olahraga yg baru buat gw. sebenernya sudah pengen nyoba semenjak smp, tapi baru kesampaian pas udah kerja di jakarta.

kadang membayangkan nyelam itu olahraga berbahaya, soalnya didalam air, bisa tenggelam tuh. ya sih, semua olahraga kalo ga dilakuin dgn benar juga bahaya bok. nyelam itu aktivitas yg mahal ya? itu tuduhan yg semena2, menurut gw sih itu relatif, masih lebih masuk akal diving daripada clubbing yg bisa ngabisin duit berjuta2 dan ga dapet apa2.

anyway, gw mo cerita dulu nih. sehabis gw dapet sertifikasi internasional dari CMAS untuk penyelam pemula, trip gw pertama ke pulau kotok besar (again?!!). pula ini terletak digugusan kepulauan seribu, di utara jakarta. kesananya pake boat dengan 4 mesin makan waktu dua jam saja, sambil sedikit terhempas-hempas selama perjalanan.


weby siap-siap mo dive (kiri). bintang laut divers mo nyelam (kanan)

temen2 klub diving gw orangnya familiar banget, suka becanda tetapi serius kalau sudah persiapan nyelam. apalagi masalah ledek2an abis nyelam dibunaken ato bali.. wuah, ngakaknya ga keruan!

pagi itu kita dive didepan pulau kotok besar, taman lautnya cukup bagus, visibility cukup bagus 10-15 mtr, meskipun sea floor-nya miring, persis seperti lereng gunung. kalo buoyancy kita ga bagus, alhasil bisa nabrak karang.

Posted at 12:34 pm by weby
Comment (1)  

Monday, October 18, 2004
Once upon a time in States

 

Kubangkitkan tubuhku dari kasur. Penat juga agaknya setelah semalaman muter2 nyari hotel yang berlokasi ditengah Manhattan. Duduk sejenak dan melamun sebentar, dan masih dengan celana pendek tidur dan kaos kusut, kulangkahkan kakiku menuju beranda kamar. Begitu pintu kubuka, ternyata segar juga udara pagi itu, kuhirup napas dalam2, ah ternyata engga juga, ini New York bung!



chrysler building, ny


Aku berada dilantai 20-an rupanya (entah lantai berapa tepatnya), dari beranda bisa kulihat dengan jelas Chrysler Building yang terkenal itu dan beberapa gedung-gedung tinggi khas Amerika lainnya. Suara kendaraan lalu lalang dijalanan dan kadang-kadang bunyi klakson terdengar sayup-sayup dari bawah. Ada yang aneh juga suara yang kudengarkan,mmm... ya betul! itu suara terompet tradisional orang Skotlandia. Terdengar mengalun dengan sendu dan begitu panjang. Telingaku terus siaga, melacak darimana asalnya bunyi itu. Ingin kudatangi saja rasanya, maklum sudah penasaran. Aneh juga, rasanya bunyi itu ada dibalik hotel yang kutempati semalam.

Sepertinya sih aku sudah agak hapal posisi hotelku ini, jadi aku pasti bisa ketemu sama orang yang memainkan terompet tradisional itu. Tapi apa daya, ketika hendak giliran untuk masuk kamar mandi, suara tersebut sayup-sayup sudah tidak terdengar lagi. good bye dulu deh...


***

Madison memang kota yang kecil, pusat kotanya juga kecil, gedung bertingkat lebih dari 4 lantai sepertinya hampir tidak ada. Kalau orang Indonesia berkunjung kekota ini, salah satu komentarnya : "kok tidak seperti di Amerika ya". Ya, ini komentar teman-teman paman saya ketika dia dan teman-temannya sampai di Amerika untuk belajar sekitar tahun 60-an.



danau mendota


Meskipun kecil, kota ini sangat rapi, bersih, teratur, nyaman dan yang menyenangkan ada danau di dekat University of Wisconsin (UW), namanya danau Mendota. Danau ini cukup besar, ada beberapa kapal layar kecil, milik unit kegiatan mahasiswa UW barangkali ya.

Ada belasan bebek yang sedang berenang ditepi danau. Kebetulan juga ada rombongan anak-anak kecil beserta 2 orang dewasa. Rupanya mereka sedang babysitting, meskipun anak 4-7 tahun sudah tidak bisa dikategorikan "baby" lagi ya.

Ada salah satu anak laki-laki, rambutnya kuning jagung dan wajahnya imut sekali. Anak tersebut mengenakan kaos garis-garis horizontal dan celana pendek gelap, dia terlihat asyik menyemprotkan botol minumannya yang berisi air ke arah bebek-bebek. Salah satu pengasuhnya melarangnya
"Don't do that, okay?" kata si pengasuh yang laki-laki. Sementara, pengasuh yang perempuan sedang sibuk meladeni beberapa anak yang lain didalam kelompok itu.
Si anak kecil itu menghentikan kegiatannya dan dengan wajah tanpa dosa ia menoleh ke pengasuhnya itu sambil bertanya
"Why?"
Si pengasuh itu mungkin tidak punya jawaban yang bisa ia jelaskan dalam bahasa anak kecil dan kelihatannya sedikit capek.
Ia menjawab "Because I said so".
Si Anak kecil itu kelihatan sedih, kemudian ia mengambil botolnya dan bergegas berkumpul bersama teman-temannya lagi.

Pertanyaan "why" ini jarang sekali rasanya digunakan oleh anak-anak Indonesia seumuran anak itu, apalagi untuk kejadian sesepele itu. Apakah mereka dibiasakan untuk selalu kritis dari kecil sehingga ketika gede mereka kelihatan lebih "pintar" dibandingkan orang Asia? wah sampai sejauh itu kah... ga juga ya.


Amerika Serikat, Juli 1995


Posted at 04:04 pm by weby
Comment (1)  

Muara Badak

Muara Badak itu nama kecamatan. Jaraknya sekitar 1 jam naik bus dari Samarinda, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam? ya, itu juga di Samarinda. Kalo kamu menyeberangi sungai Mahakam, pasti takjub lah, sama seperti aku ketika pertama kali menyeberangi jembatan yang melintasi sungai Mahakam. Sungainya dipenuhi dengan kapal-kapal besar yang hanya kita temui dilaut!

Well, itu cerita intermezzo aja. Dari Jakarta ke Muara Badak sih naik pesawat dulu ke Balikpapan, baru naik bus ke Samarinda, kurang lebih 3 jam lah. Begitu meninggalkan Balikpapan, pemandangannya hutan banget deh!

Ditengah ketidakberadaban, terletaklah perusahaan-perusahaan minyak kelas dunia di daerah Kalimantan Timur, seperti Total Indonesie E&P, VICO Indonesia, Unocal Indonesia, MedcoEnergy,dll. Kebetulan aku sudah bekerja hampir 1 tahun di proyeknya VICO, pikirku :

Lumayan lah, jalan-jalan gratis, nambah ilmu dibayar ama company hehehe


Ada 2 tempat yang harus kukunjungi di field-nya VICO, yaitu Nilam Satellite 2 dan Nilam Satellite 5. Namanya keren yach? padahal letaknya sih sangat jauh dari mana-mana dan bakal bulukan kalo terlalu lama disana. Kiri kanan hutan tropis belaka, ditengah-tengah hutan gitu ada fasilitas produksi minyak dan gas.


nilam satellite#5 low pressure manifold

Namanya juga difield, hawanya cukup panas dan menyengat, tapi untunglah ada bekas container yang disulap jadi kantor dan diberi penyejuk ruangan (AC), amboyyy.. nikmatnya.. habis makan siang sampe kenyang dan sedikit merokok, kita bisa rebahan dilantai sambil tiduran.

Bahaya selalu mengintai pada setiap fasilitas produksi minyak dan gas dimanapun didunia. Wah, gawat dong! engga juga, itu sudah ada yang ngurusin, kayak misalnya Flare Stack dan Burn Pit. Kalo ditanya apa bedanya? Flare Stack sih buat ngebakar gas yang dibuang ke atmosfir. Kalo burn pit buat ngebakar hydrocarbon liquid ato condensate yang dibuang ke atmosfir.

Lho kenapa gas sama minyaknya harus dibuang? sayang dong?

bukan masalah sayang, lha kalo gas ato hydrocarbon liquid itu dibiarin didalam tangki, justru membahayakan fasilitas dan nyawa manusia.. gitu lhoo..

Burn Pit Nilam Satellite#2

Panas menyengat di Muara Badak, angin sepoi-sepoi bertiup menerpa tubuhku. Kutahankan peluhku mengalir disela-sela ketiak yang sudah tidak sedap lagi. Sambil merokok Gudang Garam filter, kuhembuskan asapnya disela-sela gigiku, sambil menikmati terbenamnya matahari, cahayanya semakin berkurang dan langit pun semakin gelap, udara sudah semakin dingin. Kulangkahkan kakiku ke arah mobil Ford Ranger yang bersiap menuju ke Badak.


Muara Badak, Kalimantan Timur
Agustus 2004

Posted at 01:44 pm by weby
Comments (5)